Acara Bali

Festival Jatiluwih 2018: Kenalkan Warisan Budaya Dunia dari Tabanan

Jatiluwih Festival
Jatiluwih di kaki Gunung Batukaru

Yoexplore.co.id- Bali, Sobat explorer tahukan tentang Jatiluwih? Jatiluwih adalah sebuah area di Kabupaten Tabanan, Bali dengan persawahan yang sangat luas.  Pemandangan yang ditawarkan oleh Jatiluwih benar-benar memukau lho sobat explorer. Sejauh mata memandang, kita akan disuguhi dengan pemandangan persawahan berundak-undak. Selain persawahan yang pastinya membuat kita terbengong-bengong karena indahnya, tempat ini juga menawarkan acara yang sangat menarik, Festival Jatiluwih 2018. Yoexplore berkesempatan berkunjung ke festival unik tersebut, dan sekarang akan berbagi cerita tentang acara yang satu ini pada sobat explorer.

Sekilas tentang Jatiluwih

Persawahan di Jatiluwih benar-benar dijaga oleh penduduk sekitar lho sobat explorer. Selain menjaga keberadaan persawahan berundak ini, masyarakat disana juga masih mempertahankan sistem pengairan secara tradisional Bali yang disebut dengan “Subak“. Subak didasarkan pada sebuah filosofi yang disebut dengan Tri Hita Karana, dimana manusia diharapkan dapat menjaga keharmonisan dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan hidup. Berdasarkan filosofi ini, Subak tidak hanya mengatur pembagian air dari hulu hingga sampai ke masing-masing petak persawahan, tetapi juga juga mengatur waktu bercocok tanam dan ritual-ritual yang dilakukan selama musim tanam hingga musim panen. Karena keunikannya Subak merupakan Warisan Budaya Dunia yang sudah diakui oleh Unesco dari tahun 2012.

Persawahan di Jatiluwih menawarkan pemandangan terasering yang sangat indah, selain itu warna persawahan akan berubah-ubah sesuai waktu kita berkunjung. Dari awal musim tanam hingga saat padi belum berbuah, waran hijau akan mendominasi tempat ini. Jika kita berkunjung pada saat mendekati musim panen, warna hijau kekuningan yang bisa sobat explorer nikmati. selain itu, ada gunung Batukaru di kejauhan yang membuat pemandangan bertambah indah. Kita juga bisa berjalan atau bersepeda mengikuti track yang sudah disediakan.

Menengok Festival Jatiluwih 2018

Untuk memperkenalkan Jatiluwih kepada masyarakat Indonesia dan dunia, tahun ini Festival Jatiluwih diadakan pada tanggal 14- 15 September 2018. Festival ini sangat menarik kerena selain daidakan di sebuah tempat yang dikelilingi oleh persawahan yang sepanjang mata memandang, festival ini mengajak masyarakat sekitar Jatiluwih untuk ikut berpartisipasi, mulai dari sebagai pengisi acara hingga untuk menyiapkan prasarana yang hampir semuanya dibuat dari bambu. Acara yang digelar di Festival Jatiluwih 2018 ini juga sangat menarik lho, mulai dari workshop, pameran, pertunjukan seni, dan live music yang juga diisi oleh beberapa artis ibukota.

Yoexplore mengunjungi festival ini pada hari kedua, tepatnya pada tanggal 15 September lalu. Saat tiba di Daya Tarik Wisata Jatiluwih, kami disambut oleh “Pecalang” atau petugas keamanan desa setempat yang dengan ramah mengarahkan ke tempat acara. Dari pintu masuk menuju tempat acara, mata dimanjakan dengan hamparan sawah hijau yang benar-benar mebuat adem, semua masalah sepertinya langsung terbang menjauh lho sobat explorer. Saat itu Yoexplore tidak langsung menuju ke tempat acara, tapi mengeksplorasi Jatiluwih dulu sambil ngobrol-ngobrol dengan beberapa petani yang sedang mengerjakan sawah mereka. Bapak dan Ibu petani ini ramah-ramah semuanya dan menjawab semua pertanyaan yang kami ajukan tentang sawah yang sedang digarap. Bahkan salah seorang ibu menunjukkan cara untuk “mejukut“, istilah Bali yang digunakan untuk menyebut cara menyiangi rumput liar.

 

Pertunjukkan di Festival Jatiluwih Festival 2018

Festival Jatiluwih

Tari Oleg Tamulilingan

Setelah puas mengobrol dengan para petani, Yoexplore langsung menuju D’Uma Jatiluwih, sebuah bukit kecil tempat festival dipusatkan. Setelah menaiki tangga, area festival yang cukup luas telah menunggu. Beberapa panggung tersebar di tempat ini. Selain panggung utama yang berjarak beberapa ratus meter dari pintu masuk, ada area pameran foto yang memamerkan foto-foto cantik yang diambil di sekitar Jatiluwih.

Saat Yoexplore sampai disana, bertepatan dengan kegiatan workshop melukis sketsa. Para peserta tampak sangat antusias untuk mengikuti kegiatan tersebut. Instruktur juga menceritakan pengalamannya dalam menjadi pelukis sketsa pada peserta.

Beberapa saat setelah melihat workshop melukis sketsa, terdengar suara gamelan dari panggung di sekitar area kuliner. Pertunjukkan di panggung ini baru saja akan dimulai sobat explorer. Pertunjukkan tarian pertama adalah sebuah tari penyambutan yang bernama “Tari Puspa Wresti” ditarikan oleh 5 orang penari perempuan dan 4 orang penari laki-laki. Setalah itu dilanjutkan dengan tarian kebanggaan masyarakat Kabupaten Tabanan, “Tari Oleg Tamulilingan”. Tarian ini ditarikan oleh sorang perempuan dan seorang penari laki-laki. Tarian ini menceritakan tentang “Tamulilingan” atau lebah yang sedang bermain-main di sekitar bunga. Gerakan tarian ini sangat dinamis, dan tentunya expresi penarinya yang juga berubah mengikuti suara gamelan dan gerak badannya. Tarian ni diciptakan oleh I Marya, atau yang lebih terkenal dengan nama I Mario, seoang maestro tari Bali asal Tabanan.

Festival Jatiluwih

Pengunjung berfoto dengan Agus, si Ular Albino

Tidak jauh dari panggung di area kuliner, ada pameran dari Bali Reptile Rescue. Di stand ini kita dapat belajar banyak tentang reptil dan ular lho sobat explorer. Tidak hanya belajar mengenai jenis-jenis ular yang bisa ditemui di daerah Bali, kita juga bisa belajar tentang penanganan pertama saat tergigit binatang melata ini.  Salah satu yang menarik dari stand ini adalah keberadaan si Agus, seekor ular sanca albino dengan warna putih dan kuning  yang sangat cantik. Beberapa pengunjung sangat berani lho berfoto dengan si Agus ini.

Kuliner Khas di Festival Jatiluwih 2018

Rasanya gak lengkap ya kalau berkunjung ke sebuah festival tanpa menikmati kuliner lokal. Di Jatiluwih festival 2018 kemarin, ada sebuah kuliner lokal khas Jatiluwih yang menarik perhatian. Kuliner tersebut adalah “Jaje Laklak”. Ada beberapa perbedaan antara Laklak Jatiluwih dengan Laklak dari daerah lain. Jika laklak di tempat lain dibuat dengan tepung beras putih, Laklak Jatiluwih dibuat dari tepung beras merah. Warnanya pun khas, coklat. Selain warna, ukuran Laklak Jaatiluwih berbeda daripada Laklak di daerah lain, berukuran lebih besar tapi lebih tipis lho sobat explorer. Seorang pengunjung dari Jerman yang sempat Yoexplore ajak ngobrol bahkan mengira bahwa  Laklak tersebut adalah sebuah pancake cokelat, hehehe. Rasa Laklak Jatiluwih ini enak banget lho, apalagi kalau dimakan hangat-hangat.

Jatiluwih Festival

Laklak Jatiluwih dari tepung beras merah

Selain kuliner khas tersebut, disini juga banyak stand-stand lain lho sobat explorer. Ada stand kerajinan lokal dan produk olahan hasil pertanian. Mulai dari beraneka beras organik sampai kripik belut yang sudah bersertifikasi SNI! Serunya berkeliling sambil melihat produk-produk unggulan kabupaten Tabanan yang dipamerkan disini.  Acara masih dilanjutkan sampai malam hari. Hari itu juga ada Indra Lesmana dan beberapa artis terkenal lainnya yang tampil di Festival Jatiluwih 2018.

Nah sobat explorer, itu tadi keseruan kita jalan-jalan di Jatiluwih Festival 2018.  Rasanya sudah kangen mau kesana lagi lho sobat explorer. Sampai jumpa di Jatiluwih festival 2019 tahun depan!

 

 

 

 

Tentang penulis

Ketut Cakra

Ketut Cakra

Hi, para sahabat explorer! Saya adalah Account Executive di YoExplore, bertanggung jawab untuk membangun kemitraan dengan mitra YoExplore, baik Merchant maupun Agen. Saya tinggal di Bali, so, kamu bakalan banyak membaca tulisan saya tentang Bali dan tempat-tempat asyik lainnya di Bali! Selamat membaca!

Tinggalkan komentar