Berita

Berikut Ini Adalah 5 Penelitian Tentang Corona Yang Memberikan Harapan Baik

penelitian tentang corona - yoexplore, liburan keluarga - yoexplore.co.id
image source: liputan6

YOEXPLORE, Tour Operator – Sahabat explorer, pandemi global coronavirus atau Covid-19 ini memang merupakan sebuah masalah yang serius. Jika kita buka buku sejarah, tepat 100 tahun yang lalu kita juga mengalami masalah yang sama yaitu wabah yang menyerang hampir seluruh negara di dunia. Hal ini memang sudah harus menjadi perhatian serius bagi kita masyarakat untuk tetap mendukung dan mentaati usaha pemerintah dalam penanganan penyebaran corona virus ini sendiri. Sampai saat ini memang vaksin masih belum ditemukan, namun ada beberapa penelitian tentang corona yang memang setidaknya memberi angin segar dan juga harapan untuk melawan virus ini. 

Penelitian Tentang Corona

Memang, akhir dari wabah ini masih belum bisa terlihat, sahabat explorer. Anjuran untuk physical distancing terus dikampanyekan demi mencegah penyebaran covid-19. Bahkan, ada beberapa negara yang memang memutuskan untuk menerapkan lockdown. Di tengah suasana yang negatif ini, tentunya akan sangat membantu kita apabila mengetahui mengenai informasi penelitian tentang corona itu sendiri. Kira-kira ada apa saja ya, sahabat explorer? Mari langsung kita simak ulasannya yang dilansir dari Medical News Today

1. Berhasilnya Langkah Pengendalian Infeksi

Para ahli dan peneliti di Hong Kong mengevaluasi pengaruh wabah pada 43 rumah sakit umum di negara tersebut. Langkah-langkah pengendalian infeksi yang sudah diterapkan para tenaga medis berhasil melindungi mereka dari tertularnya virus selama masa studi tersebut. Selain itu, tidak ada infeksi yang didapatkan di dalam rumah sakit. 

Dr. Vincent C.C. Cheng dan juga koleganya, dari Departemen Mikrobiologi Queen Mary Hospital di Hong Kong, sudah menyimpulkan langkah-langkah pengendalian infeksi yang tepat dalam mencegah penularan virus pada para tenaga kesehatan. Memperhatikan kebersihan tangan, pemakaian masker bedah di rumah sakit, dan juga penggunaan peralatan pelindung pribadi yang tepat dalam merawat pasien positif Covid-19 merupakan kunci langkah-langkah pengendalian infeksi yang dapat mencegah penularan virus di rumah sakit. 

2. Tertular Virus Dapat Melindungi Diri Dari Infeksi Di Masa Depan

Ada sebuah studi yang menguji paparan SARS-CoV-2 terhadap empat kera rhesus. Para peneliti tersebut menginfeksi kembali dua dari empat kera tersebut setelah 28 hari dari infeksi yang pertama. Sebanyak 96 kali uji nasofaring dan dubur terbukti negatif virus pada paparan kedua infeksi yang dikonfirmasi melalui euthasiana dan juga nekropsi salah satu dari kedua kera tersebut. Hasil uji ini menunjukkan terinfeksi SARS-CoV-2 dapat melindungi dari paparan berikutnya dan ini juga akan berguna untuk merencanakan vaksin untuk membunuh virus tersebut, sahabat explorer

Prof. Martin Bachmann, seorang profesor vaksinologi dari Oxford University mengatakan, “Bisa saya katakan, jika Anda terkena Covid-19 dan menjadi sangat sakit, saya yakin jika tubuh Anda akan membuat respons antibodi yang akan bertahan cukup lama, akan tetapi, jika virus dalam tubuh Anda hanya mereplikasikan dalam jumlah sedikit dan tidak benar-benar mencapai kelenjar getah bening, bisa jadi tubuh Anda tidak langsung membuat antibodi”. Kata professor tersebut.

“Bagusnya adalah berarti Anda tidak terlalu sakit. Dan jika ada orang yang memang benar-benar sakit karena virus ini, saya akan terkejut jika mereka tidak membangun respons antibodi,” lanjut Bachmann.

3. Vaksin Dalam Tahap Uji Coba

Sebuah uji coba vaksin sedang dilakukan oleh Institut Kesehatan Nasional (NIH) di Institut Penelitian Kesehatan Kaiser Permanente Washington di Seattle, Amerika Serikat. Vaksin ini merupakan yang pertama kalinya diuji coba langsung terhadap manusia. Dalam uji coba, 45 relawan yang sehat akan diberikan vaksin yang mengandung segmen kode genetik yang meniru SARS-CoV-2. Namun, vaksin tersebut tidak mengandung SARS-CoV-2 (virus corona atau Covid-19) yang sebenarnya, dengan demikian para relawan tidak akan terinfeksi dengan Covid-19. Tim ofisial dari pemerintah mengatakan mungkin akan membutuhkan waktu sekitar 12-18 bulan sebelum vaksin tersebut bisa mencapai pasar. Karena tujuan utama dari uji coba ini adalah agar memastikan tidak ada efek samping dari vaksin tersebut.

4. Metode Lama Mungkin Dapat Melawan Covid-19

Menurut salah satu penelitian dalam jurnal The Journal of Clinical Investigation, para dokter mungkin dapat menggunakan metode lama yang disebut dengan “terapi antibodi pasif” untuk menangani pasien Covid-19. Ilmuwan yang ada dalam penelitian tersebut mengatakan metode ini tidak perlu dikaji ulang atau dikembangkan karena metode ini sudah ada sejak tahun 1930. 

Metode ini melibatkan sampel pengumpulan darah dari seseorang yang sudah sembuh dari virus tersebut. Dengan menggunakan serum tersebut, bagian yang memang mengandung antibodi penangkal infeksi, para peneliti berharap agar dapat menyuntikkannya ke orang lain sehingga dapat mencegah infeksi atau membantu melawan virus tersebut. “Itu semua bisa dilakukan. Namun, akan sangat membutuhkan usaha, organisasi, sumber daya, dan juga orang-orang yang berhasil sembuh dan mau menyumbangkan darahnya,” kata Dr. Arturo Casadevall, seorang profesor di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health di Baltimore.

5. Sistem Kekebalan Tubuh Manusia Dapat Mengalahkan Virus

Sebuah penelitian yang terdapat dalam jurnal Nature Medicine mengamati seorang pasien Covid-19 yang berhasil sembuh dalam waktu beberapa hari. Dia adalah seorang perempuan yang berusia 47 tahun yang terinfeksi virus di Wuhan, China. Para peneliti tersebut mengamati bagaimana respons antibodi di dalam tubuh wanita tersebut untuk memahami proses penyembuhannya. Prof. Katherine Kedzierska dan juga timnya dari Departemen Mikrobiologi dan Imunologi di Doherty Institute di Melbourne, Australia, menemukan bahwa peningkatan imunoglobulin G, tipe antibodi yang paling umum, di dalam sampel darah wanita tersebut. 

Mereka juga ikut mendeteksi sel imun kunci dalam jumlah yang besar, seperti sel T pembantu khusus, sel T pembunuh, dan juga sel B pada hari ketujuh dan kesembilan setelah timbulnya gejala Covid-19. “Ini merupakan langkah yang menakjubkan untuk memahami proses penyembuhan dari Covid-19 itu sendiri. Peneliti lain dapat menggunakan metode kami untuk memahami respons imun di dalam Covid-19 yang lebih besar dan apa kekurangan dari hasil yang fatal,” kata Kedzierska.

Sahabat explorer, semoga angin segar ini dapat meredam kepanikan kamu terhadap penyebaran coronavirus ini ya. Semoga artikel ini bermanfaat, tetap #dirumahaja , stay safe dan have a good day, explorer!

Tentang penulis

Romzi Shamlan

Romzi Shamlan

Saya adalah Digital Content Creator untuk majalah YOEXPLORE dan akun YOEXPLORE di YouTube dengan pengalaman dalam blogging di bidang musik, membuat konten kreatif di bidang musik, radio, dan film.

Tinggalkan komentar