Berita

Sejarah Anak Gunung Krakatau

sejarah anak gunung krakatau - yoexplore, liburan keluarga - yoexplore.co.id
image source: republika

YOEXPLORE, Tour Operator – Sahabat explorer, seperti yang kita ketahui beberapa waktu lalu terjadi tsunami di wilayah Anyer dan sekitarnya, bahkan sampai ke Lampung. Lokasinya memang berdekatan dengan sebuah gunung yang terkenal di Indonesia, yaitu Gunung Krakatau. Bahkan, masih dalam kurun waktu yang tidak lama setelah tsunami, kita juga dihebohkan dengan berita aktifnya lagi Gunung Krakatau beberapa waktu yang lalu, sahabat explorer. Namun, jika kita melihat lagi ke masa lalu, maka gunung yang satu ini memang pernah mencatatkan erupsi terbesar yang pernah ada di Indonesia. Pada akhirnya, erupsi tersebut juga menciptakan lagi sebuah anak gunung yang disebut Anak Gunung Krakatau. Sejarah Anak Gunung Krakatau itu sendiri juga panjang, sahabat explorer. Dalam kesempatan kali ini, kita akan membahas sedikit mengenai sejarah lahirnya anak gunung tersebut. 

Sejarah Anak Gunung Krakatau

Dijelaskan oleh Harian Kompas lewat video yang diunggah ke Youtube pada tahun 2015 silam, salah satu zona vulkanik aktif di dunia adalah zona cincin api. Zona cincin api tersebut membentang dari pesisir barat Amerika sampai dengan Aleutian Alaska dan turun ke pesisir timur Asia. Gunung Anak Krakatau termasuk satu dari 127 gunung berapi di Indonesia yang berada dalam cincin api tersebut. Pada saat zaman prasejarah, para ahli geologi memperkirakan bahwa pada masa purba tersebut, terdapat gunung yang sangat besar yang berada di wilayah Selat Sunda. Gunung itu lantas meletus dahsyat sehingga menyisakan sebuah kaldera (kawah besar) yang disebut dengan Gunung Krakatau Purba. 

Baca Juga: Berwisata Dengan Tema Sejarah di Banten

Gunung Krakatau Purba meletus pada tahun 416 Masehi yang pada akhirnya mengakibatkan 2/3 bagian Krakatau hancur dan tenggelam. Dikutip dari Wikipedia, catatan mengenai letusan Krakatau Purba yang diambil dalam sebuah teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa yang diperkirakan berasal dari tahun yang sama yaitu 416 Masehi. Isinya antara lain menyatakan:

“Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang sangat menakutkan, kegelapan total, petir dan juga kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh isi dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula. Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, dan kemudian menciptakan pulau Sumatera “

Menurut pakar geologi Berend George Escher dan juga beberapa ahli lainnya berpendapat bahwa kejadian alam yang diceritakan tersebut berasal dari Gunung Krakatau Purba, yang dalam teks tersebut disebut dengan Gunung Batuwara. Menurut buku Pustaka Raja Parwa tersebut, tinggi Krakatau Purba itu mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut, dan lingkaran pantainya mencapai 11 kilometer. 

Letusan Dahsyat Krakatau

Pada tanggal 26 hingga 27 Agustus 1883 terjadi letusan yang amat dahsyat yang menghancurkan hampir 60 persen tubuh Gunung Krakatau di bagian tengah dan akhirnya terbentuklah lubang kaldera. Letusan ini berkekuatan 21.574 kali bom atom, bahkan letusan Krakatau terdengar hingga radius 4.600 kilometer dari pusat ledakan di Selat Sunda, sahabat explorer! Suara letusannya bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk bumi pada saat itu. Luar biasa banget, ya, sahabat explorer.  Letusan itu sangat dahsyat; ditambah awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Letusan Krakatau pada waktu itu sempat merubah iklim global. Dunia dibuatnya gelap dua setengah hari dikarenakan debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya, hamburan debu tampak di langit Norwegia dan juga New York. 

40 tahun setelah meletusnya Gunung Krakatau, muncullah Anak Gunung krakatau. Anak Gunung Krakatau ini ditemukan pada 29 Desember 1927 ketika sejumlah nelayan dari Jawa menyaksikan ada uap dan abu yang muncul dari kaldera. Setiap bulan tubuhnya bertambah tinggi sekitar 0,5 meter atau 6 meter per tahun. Krakatau kembali bangun setelah 44 tahun ‘tertidur’. Dari Data Dasar Gunung Api Indonesia (Badan Geologi, ESDM, 2011) disebutkan bahwa Anak Gunung Krakatau lahir 30 Januari 1930. Puncak dengan batuan basalt muncul ke permukaan air pertama kali pada 26 Januari 1928.

Krakatau Tour

Sahabat explorer, itulah sekilas mengenai sejarah Anak Gunung Krakatau. Bagi kamu yang ingin melihat gunung ini secara langsung, kamu bisa cek Krakatau Day Trip yang kami persembahkan khusus untuk sahabat explorer!

Semoga artikel ini bermanfaat dan seperti biasa jangan lupa untuk menceritakan pengalaman unik traveling kalian di kolom komentar atau Guest Post YoExplore. Sampai bertemu lagi di tulisan berikutnya, selamat berlibur dan have a good day, explorer!

Tentang penulis

Romzi Shamlan

Romzi Shamlan

Saya adalah Digital Content Creator untuk majalah YOEXPLORE dan akun YOEXPLORE di YouTube dengan pengalaman dalam blogging di bidang musik, membuat konten kreatif di bidang musik, radio, dan film.

Tinggalkan komentar