Bali

Galungan dan Kuningan – Perayaan atas Kemenangan Kebaikan

Hari Raya Galungan - YOEXPLORE.co.id

YOEXPLORE.co.id – Hi sobat explorer, pernah denger gak tentang Hari Raya Galungan dan Kuningan? Galungan dan Kuningan adalah hari besar keagamaan yang dirayakan oleh umat Hindu di Bali. Perayaan hari besar ini jatuh setiap 210 hari menurut perhitungan kalender Bali. Dalam setahun masehi, bisa terdapat sekali atau dua kali perayaan. Selama perayaan Galungan dan Kuningan, sobat explorer akan melihat pemandangan unik di Bali. Jalan-jalan mulai dari jalan besar hingga gang-gang kecil dihiasi oleh penjor. Sejak matahari terbit, udara akan dipenuhi oleh wangi bunga dan dupa. Adapun makna dari Hari Raya Galungan dan Kuningan adalah perayaan atas kemenangan kebaikan melawan kejahatan. Nah, kali ini kita akan bahas sedikit tentang Hari Raya Galungan dan Kuningan ya sobat explorer.

Sejarah Hari Raya Galungan dan Kuningan

Galungan dan Kuningan mempunyai sejarah yang sangat panjang lho sobat explorer. Sumber tertulis tertua yang menyebutkan perayaan Galungan adalah sebuah lontar yang berangka tahun 804 Saka, atau sekitar 882 Masehi. Jadi kalau dihitung-hitung, perayaan keagamaan ini sudah bertahan lebih dari seribu tahun. Dalam perjalanan sejarahnya, upacara ini pernah tidak dijalankan lho. Gak tanggung-tanggung, selama 23 tahun para raja mengabaikan upacara ini. Tahun 1103 barulah upacara ini dilaksanakan kembali atas wahyu yang diterima oleh Raja Jayakasunu. Sang raja penasaran mengapa pendahulunya selama 23 tahun selalu berumur pendek, karenanya Beliau pergi ke Pura Dalem untuk memohon petujuk. Penyebabnya ternyata adalah kelalaian para pendahulunya untuk memuja kebesaran Tuhan melalui upacara Galungan.

Perayaan Hari Raya Galungan

Hari Raya Galungan - YOEXPLORE.co.id

Suasana persembahyangan bersama di sebuah pura.

Perayaan Hari Raya Galungan sudah dimulai dari beberapa hari sebelumnya lho sobat explorer. Enam hari sebelumnya dilaksanakan upacara Sugihan Jawa. Persembahyangan pada saat ini adalah untuk memohon kesucian alam semesta kepada Tuhan. Sehari setelahnya adalah Sugihan Bali. Kegiatan persembahyangan Sugihan Bali ditujukan untuk memohon kesucian diri.

Selama tiga hari sebelum Galungan, yaitu Penyekeban, Penyajaan, dan Penampahan, umat Hindu diharapkan untuk melakukan pengendalian diri. Hal ini dikarenakan ada kekuatan negatif yang dapat mempengaruhi manusia. Pengendalian  diri akan menghindarkan manusia dari kegiatan negatif, sehingga pada Hari Galungan dapat merasakan kemenangan yang sebenarnya.

Sehari sebelum Galungan, semua keluarga mendirikan Penjor. Penjor adalah bambu yang dihias sedemikian rupa dengan berbagai hasil alam seperti janur, buah, daun, bunga, serta kue-kue, termasuk jajanan pasar di Bali. Penjor adalah lambang gunung sebagai sumber kesejahteraan masyarakat Bali sekaligus sebagai lambang ucapan syukur kepada Tuhan atas limpahan anugerah-Nya berupa hasil alam yang tidak ada habisnya.

Kalo sobat explorer sedang berada di Bali pada pada Hari Raya Galungan, pagi-pagi buta saat mentari baru terbit sudah tercium wangi dupa. Aktivitas persembahyangan sudah dimulai saat itu dan semua keluarga melakukan persembahyangan masing-masing di rumahnya dan dilanjutkan ke pura yang ada di sekitar. Suasana sangat meriah dan dimana-mana sobat explorer akan melihat orang- orang dengan pakaian adat berlalu-lalang dengan membawa persembahan yang disebut dengan “Banten”Banten dibuat dari berbagai jenis hasil alam  seperti buah, daun, dan bunga. Selain itu, ada juga hasil buatan manusia seperti nasi, lauk pauk, dan beraneka jenis kue. Banten dihaturkan kepada Tuhan, para dewa, dan leluhur sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia yang diberikan selama ini.

Hal yang menarik setelah hari raya Galungan adalah kegiatan “ngelawang” yang dilakukan anak-anak. Mereka akan membawa “Barong” berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya. Kegiatan ini biasanya dilakukan sehari setelah hari raya Galungan hingga 10 hari kemudian, yakni Hari Raya Kuningan.

Hari Raya Kuningan

Hari Raya Galungan - YOEXPLORE.co.id

Banten yang persiapkan untuk Hari Raya Kuningan

Tepat 10 hari setelah Hari Raya Galungan adalah Hari Raya Kuningan. Ciri khas dari hari raya ini adalah membuat nasi kuning yang digunakan untuk banten. Nasi kuning ini dilengkapi dengan beraneka jenis kacang-kacangan, serundeng, telur dadar, dan ikan kering. Beberapa daerah menambahkan irisan daging ayam, bahkan ada yang melengkapi dengan potongan gurita kering yang digoreng lho.

Selain nasi kuning, hal yang khas dari perayaan Hari Raya Kuningan adalah hiasan yang dipasang pada pura maupun rumah penduduk. Ada Tamiang yang berbentuk bulat seperti perisai dan ada juga Kolem yang mirip seperti senjata. Selain dua itu tadi, ada juga yang namanya Endongan yang bentuknya mirip tote bag. Isinya macam-macam lho, ada nasi, lauk pauk dan hasil bumi. Mungkin sobat explorer mikir nih, kok ada perisai, senjata, dan logistiknya, kaya mau perang aja, hehehe…

Hari Raya Galungan - YOEXPLORE.co.id

Tamiang- hiasan yang dipasang saat Hari Raya Kuningan

Makna dari ketiga hiasan itu adalah mengingatkan manusia untuk selalu siap berperang melawan kejahatan. Kebaikan adalah perisai yang  digunakan untuk melindungi diri dari kejahatan dan sekaligus senjata dalam perang melawan kejahatan. Nah gak cuma menegakkan kebaikan aja nih sobat explorer, manusia juga gak boleh lupa untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Makanya tuh diingatkan dengan bekal logistik di Endongan, bekal yang didapatkan berdasarkan kebaikan. Dengan selalu berjuang melawan kejahatan, kita akan merayakan lagi kemenangan kebaikan melawan kejahatan pada Hari Raya Galungan berikutnya.

Nah kalau Hari Raya Galungan dilakukan seharian penuh, Hari Raya Kuningan hanya dirayakan selama setengah hari. Semua kegiatan sembahyang harus dilakukan sebelum tengah hari. Umat Hindu meyakini bahwa pada saat tengah hari para dewa dan leluhur akan kembali  ke surga.

Pulang Kampung Saat Hari Raya

Pulang kampung juga merupakan tradisi yang mewarnai perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Bagi mereka yang merantau, momen Galungan dan Kuningan menjadi ajang untuk berkumpul dengan keluarga besar. Biasanya setelah sembahyang, orang-orang akan saling mengunjungi keluarga dekat maupun kerabat untuk memperat tali persaudaraan.

Sobat explorer, itulah  sedikit cerita tentang Hari Raya Galungan di Bali. Suasana yang berbeda akan sobat explorer rasakan jika berada di Bali pada saat hari raya tersebut. Tahun ini Galungan pertama jatuh pada tanggal 30 Mei dan Kuningan pada tanggal 9 Juni 2018. Galungan berikutnya akan dirayakan pada tanggal 26 Desember 2018 dan Kuningan akan dirayakan pada tanggal 5 Januari 2019. Kalau sobat explorer masih penasaran dan mau tanya-tanya tentang kedua hari raya ini, jangan sungkan untuk tinggalkan komentar di kolom komentar.

Tentang penulis

Ketut Cakra

Ketut Cakra

Hi, para sahabat explorer! Saya adalah kontributor untuk Majalah YoExplore. Saya tinggal di Bali, so, kamu bakalan banyak membaca tulisan saya tentang Bali dan tempat-tempat asyik lainnya di Bali! Selamat membaca!

Tinggalkan komentar